Usianya Lebih Dari Satu Abad! Ini dia Gereja Tertua di Cianjur yang Masih Ada Sampai Sekarang, Jadi Pusat Pengembangan Umat Kristen di Kota Santri

CIANJURUPDATE.COM – Di Kampung Palalangon, Desa Kertajaya, Kecamatan Ciranjang, Cianjur, berdiri sebuah bangunan bersejarah dan tertua yakni Gereja Palalangon.

Didirikan pada tahun 1902 oleh B Temo Alkema bersama tujuh keluarga pelopor, Gereja Palalangon merupakan salah satu situs sejarah Kristen yang tertua di Cianjur.

Bagaimana sejarah Gereja Palalangon yang menjadi bangunan tertua di Kabupaten Cianjur? Simak ulasan lengkapnya di bawah ini.

Dengan usia yang telah mencapai 122 tahun, Gereja Palalangon dibangun sebagai tempat ibadah darurat.

BACA JUGA: Berdampingan Dengan Umat Islam? Ini Dia Kampung Kristen di Cianjur, Sejarahnya Berawal dari Misionaris Belanda

Namun, seiring berjalannya waktu, gereja ini telah berkembang menjadi simbol keberagaman agama dan toleransi antarumat beragama di Indonesia.

Gereja ini berlokasi di Kampung Palalangon, sebuah desa yang dulunya dikenal sebagai komunitas Kristen pertama di daerah Cianjur.

Nama “Palalangon” sendiri diambil dari kata dalam bahasa setempat yang berarti “menara,” mencerminkan peran historisnya sebagai mercusuar spiritual bagi para pengikut Kristiani pada masa itu.

Sejak awal berdirinya, gereja ini hanya memiliki 21 jemaat, namun jumlah tersebut terus berkembang seiring dengan bertambahnya keluarga dan keturunan mereka yang bergabung dengan komunitas gereja.

BACA JUGA: Sultan Hamid I Terlibat! Ini Sejarah Pendirian Daerah Istimewa Kalimantan Barat yang Kontroversial

Awalnya, Gereja Palalangon adalah sebuah struktur sederhana yang dibangun dari bahan-bahan lokal.

Namun, seiring dengan waktu, gereja ini mengalami renovasi menjadi bangunan permanen dengan desain Eropa yang khas, menggunakan balok kayu sebagai penopang utama struktur bangunan.

Meskipun telah lebih dari satu abad berlalu, arsitektur asli gereja ini masih dipertahankan, dengan balok-balok kayu yang kokoh menjadi saksi bisu perjalanan sejarahnya yang panjang.

Gereja Palalangon juga mencerminkan sejarah agama Kristen di Cianjur yang bermula dari misi para penginjil Belanda pada abad ke-19.

BACA JUGA: Warga Cianjur Optimis Timnas Indonesia Bisa Menang Melawan Uzbekistan, Siap Cetak Sejarah Baru

Misi ini tidak hanya memperkenalkan agama Kristen, tetapi juga berkontribusi pada pembentukan komunitas Kristen yang kini menjadi bagian dari sejarah lokal.

Seiring dengan perkembangan waktu, komunitas Kristen di desa ini telah mengalami perubahan demografis yang signifikan, dengan mayoritas penduduk saat ini adalah Muslim.

Perpindahan lokasi gereja dari bukit ke dataran rendah setelah pembangunan Bendungan Cirata juga mencerminkan dinamika sejarah dan geografi yang memengaruhi kehidupan masyarakat setempat.

Keberadaan Gereja Palalangon di tengah desa yang kini mayoritas Muslim adalah contoh nyata dari keragaman agama dan harmoni yang dapat terjalin di Indonesia.

BACA JUGA: Sejarah Perang Sarung, Dari Simbol Perlawanan Malah Jadi Kekerasan di Bulan Ramadhan

Keberhasilan gereja ini dalam mempertahankan warisan arsitektur dan sejarahnya, sambil tetap beradaptasi dengan perubahan zaman, menunjukkan betapa pentingnya toleransi dan saling menghormati antarumat beragama.

Gereja ini bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga simbol persatuan dan keberagaman yang menjadi kekuatan bagi masyarakat Indonesia.

Dengan cerita panjang yang dimilikinya, Gereja Palalangon tetap berdiri sebagai monumen hidup dari sejarah agama Kristen di Cianjur.

Serta, contoh yang menginspirasi bagaimana keberagaman agama bisa menjadi landasan bagi keharmonisan dan kerukunan antarumat beragama di Indonesia.

Exit mobile version